Kehilangan anak di mal, mungkin akan menjadi cerita yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidup saya. Kejadian yang membuat jantung serasa mau copot itu terjadi ketika saya bersama keluarga pulang mudik lebaran yang lalu di kampung halaman puang di kota Makassar. Cerita berawal usai bersilaturahmi dengan kerabat yang ada disana sehari sesudah lebaran, saya bersama kakak ipar dan beberapa keponakan singgah di Mal Panakukang, jam menunjukan pukul tujuh malam, lumayan masih ada waktu sekitar dua jam untuk mengajak keponakan dan anak saya bermain di tempat permainan anak-anak yang ada di mal ini.
Sebagai informasi, Mal Panakukang adalah mal terbesar yang ada di kota Makassar, berdiri di atas lahan seluas 70.000 m2, terdiri atas empat lantai dan diisi ratusan tenant produk-produk terkenal. Sebenarnya jika di lihat dari luar mal ini terlihat biasa saja, tapi setelah kita berada di dalam baru terasa luasnya mal ini, semakin terasa memanjang dan luas karena terhubung dengan Panakukang Square yang berada di seberang jalan dan dihubungkan dengan jembatan multi guna layakanya jembatan yang menghubungkan ITC dan Mal Casablanka di Jakarta.
Seingat saya, selama beberapa kali saya pergi ke Makassar, baru dua kali saya berkunjung ke mal ini, sehingga saya tidak hapal area. Saya pun harus berputar-putar beberapa kali untuk mencari rombongan keluarga yang terlebih dahulu masuk sesudah saya memarkir kendaraan. Hampir setengah jam saya dibuat pusing mencari "Amazone" sebagai tempat yang dituju keluarga, padahal saya sudah beberapa kali bertanya, kepada pengunjung dan SPG. Akhirnya dengan bantuan petugas ruang informasi yang kebetulan juga saya temukan di tengah mall, saya diberi petunjuk arah yang benar, yang ternyata berada di Panakukang Square.
![]() | |||
| Mall Panakukang Makassar (gambar: www.tourism-makassar.com) |
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam lewat, setelah anak-anak selesai bermain, kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Dari sinilah tragedi itu dimulai *dramatis cuy, keponakan bersama rombongan besar berjalan didepan, saya dan Fais (anak saya) berjalan agak jauh di belakangnya, sementara istri saya dan kakaknya yang lain ada di belakang, mereka beberapa kali berhenti untuk melihat-lihat barang.
Sampai di lantai dasar arah pintu keluar mal, Fais yang baru berusia empat tahun lebih sedikit itu, nyelonong masuk ke dalam rumah makan cepat saji AW, tanpa ada rasa cemas, saya biarkan saja, karena saya tau yang ditujunya pasti tempat bermain anak-anak yang ada dalam AW. Saya hanya sesekali mengawasinya dari luar, sambil melihat dan menanyakan harga arloji di sebuah stand yang tepat berada di depan AW tersebut. Tidak lama beselang istri pun datang menyusul dan bergabung, saat ia bertanya keberadaan Fais dengan santai saya jawab sedang bermain di dalam AW.
Sampai di lantai dasar arah pintu keluar mal, Fais yang baru berusia empat tahun lebih sedikit itu, nyelonong masuk ke dalam rumah makan cepat saji AW, tanpa ada rasa cemas, saya biarkan saja, karena saya tau yang ditujunya pasti tempat bermain anak-anak yang ada dalam AW. Saya hanya sesekali mengawasinya dari luar, sambil melihat dan menanyakan harga arloji di sebuah stand yang tepat berada di depan AW tersebut. Tidak lama beselang istri pun datang menyusul dan bergabung, saat ia bertanya keberadaan Fais dengan santai saya jawab sedang bermain di dalam AW.
