Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts
Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts

Wednesday, January 9, 2013

[FF#100K] Cincin Mahar


Ayam telah berkokok, pertanda fajar akan segera menjelang,
“Mahar, kali ini aku harap engkau mau menerima cintaku,” Jono berkata dengan senyum lebar, ditanganya tergantung sebuah koper berisi dolar.
 Mahar hanya tersipu penuh arti,

Wednesday, December 26, 2012

[FF#100K] Cinta Terlarang

Ini bukan kisah Romeo dan Juliet . Perih menerima kenyatan sebuah penghianatan, cinta terlarang.

Maya, sembilan tahun aku menjalin kasih denganmu, kupertaruhkan kesetiaanku. Banting tulang di negeri orang kulakukan, memenuhi janjiku, suatu hari nanti kita akan bersanding di pelaminan, bersama sehidup semati.

Wednesday, October 31, 2012

Tes DNA [FF#100K]

“Selamat, hasil tes DNA membuktikan bahwa Ia anak bapak”.
“Tetapi dokter”
“Lho kenapa? Bukankah bapak seharusnya senang?”

Pemuda itu tersenyum getir mendengar hasil sampel yang Ia berikan minggu lalu, ingatanya terlalu sempit untuk mengingat kejadian masa lampau.

Thursday, May 24, 2012

Ujian Nyontek Nasional (UNN) [FF#100K]







Umar Bakri, kepala sekolah menengah pertama  milik organisasi keagamaan, selalu menanamkan nilai-nilai kejujuran pada anak didiknya.

Monday, April 30, 2012

[FF#100K] Phone Sex




gambar: https://ylpkjatim.or.id/


Jono merana, setahun menduda, kesepian kian melanda .
Malam ini, nomor hape sudah ia tekan, iklan dari sebuah koran pria dewasa, Phone Sex.

Monday, January 9, 2012

Dukun Aborsi [FF]

 
 
“Kamu yakin mualmu itu cuma karena maag?,”
“Yakin ma, beberapa hari ini Maya tidak teratur makan."

“Kalau begitu mama temani kamu ke dokter,”
“Jangan ma, biar Maya pergi sendiri.”

Thursday, January 5, 2012

Ngilu... [FF#100K]

Pukul 20.30

Jingga meringis kesakitan, mukanya merah padam menahan ngilu. Sesaat yang lalu dia masih terbaring lemah diatas seprei berwarna putih, masih terbius, mulutnya terbuka dan bibirnya terasa kelu.

Wednesday, December 21, 2011

Cucu untuk Ibu [FF#100K]


Emak merasa sedih. Bukan karena anaknya yang sudah tiga tahun tidak pulang. Tetapi tetangganya memang berisik, dia yang ingin cucu, kemaren, mereka yang menanyakan lagi.

Jangankan cucu, menantu pun ia belum bertemu. Yang ia tahu, anaknya kini bekerja di Jakarta, tinggal di komplek elit, ada mobil, dan istri yang cantik. Mereka terlalu sibuk, sehingga belum bisa pulang kampung.

Monday, December 19, 2011

Arwah Anisa [FF#100K]



Anisa masih saja duduk di teras rumah, padahal hari telah menjadi gelap. Lembayung senja telah berubah menjadi pekat.

Di depan pintu, seorang perempuan paruh baya hanya berdiri mematung, memandang hampa ke arah jalanan yang sepi, berharap seseorang akan datang kembali.

Thursday, December 15, 2011

Rumah Hantu [FF#100K]



Malam sudah larut, purnama tertutup awan gelap. Lapar yang membuatku harus keluar rumah, di dapur, sebungkus mie pun tak kudapti.

Aku sedang beruntung,

Thursday, November 10, 2011

Angka Sial [FF 100K]




Pesta telah usai, kemeriahan tinggal menyisakan kelelahan bagi si empunya acara. Senja telah berganti malam, lampu kamar pengantin pun telah berubah menjadi temaram.

"Inilah saatnya, sayang" bisik Sang Arjuna di telinga Sang Dewi.

Namun Sang Dewi hanya menggeleng perlahan, sebuah isyarat bahwa Ia belum siap menikmati malam pertama itu.

"Kenapa sayang? bukankah kita sudah sah, menjadi pasangan suami istri?"

Sang Arjuna bertanya, seraya menahan hasrat yang kian memuncak.

Dalam remang cahaya lampu kamar, Sang Dewi meraih kalender meja, lalu melingkari dengan spidol merah, angka 13, tanggal seperti yang tertera di undangan pernikahan mereka. Dan ia pun berkata pelan,

"Maafkan aku sayang, jangan malam ini, aku lagi dapet"

Thursday, January 20, 2011

[FF] Love Emoticon






Malam ini



Komputer dinyalakan, turn on power, booting, loading, connect dan open browser.
Tanganku mulai asik bermain diatas keyboard, tab pertama capture peta di google earth,
pekerjaan kantor yang sudah tiga hari tertunda.

Setelah jam di dinding tepat diangka 00.00,  Falih bangun dari tidurnya.
Badannya masih panas, aku pun meraskannya, duduk di pangkuanku lalu berkata,
minimize tab kedua, dashboard Kompasiana judul Mawar untuk Jingga.

"Papa besok Falih mau mandi bola"
"Tapi papa besok kerja sayang, hari minggu saja ya",  aku usap kepalanya penuh kasih.
Close tab ketiga FB chat, love emoticon with Dewi Malam, reply "Met bobo sayang".

"Tapi papa hari minggu kemaren tetap sibuk kerja di depan komputer", suara polos kembali terdengar.
Aku terhenyak, log out, close all tab.
"Aku harus hentikan kegilaan ini, sebelum aku benar-benar gila", aku bergumam sendiri.

Shut down.

Lampu dimatikan, aku dekap penuh kasih anak semata wayangku, ada kehangatan yang nyata disana, bukan semu seperti dunia maya.

SMS diterima,
"Mama pulang hari senin pa, jagain Falih ya, masih banyak pekerjaan disini".