Showing posts with label orang tua. Show all posts
Showing posts with label orang tua. Show all posts

Thursday, February 8, 2024

Air Susu Ibu


gambar: https://www.guesehat.com/


Makanan pendamping air susu ibu, atau biasa disebut dengan MPASI, seperti bubur bayi, buah-buahan yang lunak seperti pisang, merupakan penunjang gizi anak balita. Namun sesungguhnya ASI, adalah nutrisi utama bagi balita. Saya mencoba melalukan riset sendiri. Berdasarkan pengalaman pribadi, membandingkan perilaku anak-anak di rumah. 

Anak pertama hanya mendapatkan ASI sampai usia 3 bulan. Bulan ke 4, istri saya harus mengikuti diklat dari kantornya selama satu bulan, harus menginap. Wajib ikut. Jika tidak, dianggap mengundurkan diri. Masa itu pumping belum familiar.

Selama satu bulan, anak saya lebih sering minum susu formula, dibandingkan susu ibunya. Karena cocok, keterusan, minum susu sapi yang harganya mahal itu. Sampai usia 6 tahun lebih. Anak kedua, mendapatkan ASI penuh sampai dengan usia 2 tahun. 

Monday, February 5, 2024

Restoran Ibu


ilustrasi: cookpad.com

Jika sedang tidak dirumah, saya lebih suka makan di restoran biasa atau malah di pedagang kaki lima. Apalagi jika sedang di luar kota. Yang dicari adalah makanan khas daerah setempat. Merasakan keotentikan seporsi makanan, benar-benar dari asal daerahnya. Sudah barang tentu ada rasa yang khas. Yang bisa kita rasakan bedanya, dengan makanan sejenis ditempat lain. 

Program wisata kuliner di TV juga menjadi salah satu acara favorit saya. Walaupun jarang mencari tempat makan yang jadi rekomendasinya. Tapi senang aja melihat presenternya menikmati makanan dan memberikan rating atas makanan tersebut. Menahan air liur tidak jatuh.  

Jika terpaksa harus makan di mall, karena sedang ada keperluan atau bersama keluarga, akan memilih menuju ke restoran yang sudah pernah dikunjungi. Selain sudah tau rasanya juga sudah bisa memperkirakan budget yang harus dikeluarkan. Karena anak-anak pun biasanya jika ditanya mau makan dimana pasti restoran itu-itu saja yang dituju. 

Wednesday, October 23, 2013

Pengalaman Pahit Kehilangan Anak di Mal

Kehilangan anak di mal, mungkin akan menjadi cerita yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidup saya. Kejadian yang membuat jantung serasa mau copot itu terjadi ketika saya  bersama keluarga pulang mudik lebaran yang lalu di kampung halaman puang di kota Makassar. Cerita berawal  usai bersilaturahmi dengan kerabat yang ada disana sehari sesudah lebaran, saya bersama kakak ipar dan beberapa keponakan singgah di Mal Panakukang, jam menunjukan pukul tujuh malam, lumayan masih ada waktu sekitar dua jam untuk mengajak keponakan dan  anak saya bermain di tempat permainan anak-anak  yang ada di mal ini.

Sebagai informasi, Mal Panakukang adalah mal terbesar yang ada di kota Makassar, berdiri di atas lahan  seluas 70.000 m2, terdiri atas empat lantai dan diisi ratusan tenant  produk-produk terkenal. Sebenarnya jika di lihat dari luar mal ini terlihat biasa saja, tapi setelah kita berada di dalam baru terasa luasnya mal ini, semakin terasa memanjang dan luas karena terhubung dengan Panakukang Square yang berada di seberang jalan dan dihubungkan dengan jembatan multi guna layakanya jembatan yang menghubungkan  ITC dan  Mal Casablanka di Jakarta.

Mall Panakukang Makassar (gambar: www.tourism-makassar.com)

Seingat saya, selama beberapa kali saya  pergi  ke Makassar, baru dua kali saya berkunjung ke mal ini,   sehingga saya tidak hapal  area.  Saya pun harus berputar-putar beberapa kali untuk mencari rombongan keluarga yang terlebih dahulu masuk sesudah saya memarkir kendaraan. Hampir setengah jam saya dibuat pusing mencari "Amazone" sebagai tempat yang dituju keluarga, padahal saya sudah beberapa kali bertanya, kepada pengunjung  dan SPG. Akhirnya dengan bantuan petugas ruang informasi yang kebetulan juga saya temukan di tengah mall, saya diberi petunjuk arah yang benar, yang ternyata berada di Panakukang Square.

Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam lewat, setelah anak-anak selesai bermain, kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Dari sinilah tragedi itu dimulai *dramatis cuy,   keponakan bersama rombongan besar berjalan didepan, saya dan Fais (anak saya) berjalan agak jauh di belakangnya, sementara istri saya dan kakaknya yang lain ada di belakang,  mereka beberapa kali  berhenti untuk melihat-lihat barang.

Sampai di lantai dasar arah pintu keluar mal, Fais yang baru berusia empat tahun lebih sedikit itu, nyelonong masuk ke dalam rumah makan cepat saji  AW,  tanpa  ada rasa cemas, saya biarkan saja, karena saya tau yang ditujunya pasti tempat bermain anak-anak yang ada dalam AW. Saya hanya sesekali mengawasinya dari luar, sambil melihat dan menanyakan harga arloji  di sebuah stand yang tepat berada di depan AW tersebut.  Tidak lama beselang istri pun datang menyusul dan bergabung, saat ia bertanya keberadaan Fais dengan santai saya jawab  sedang bermain di dalam AW.

Tuesday, May 21, 2013

Mengatasi Anak Terlambat Bicara




Beberapa faktor penyebab anak terlambat bicara pada umumnya adalah karena anak terlalu aktif bergerak, sehingga ia tidak fokus dan kurang konsentrasi, ditambah kurangnya perhatian orang tua terhadap perkembangan verbal sang buah hati akibat kesibukan bekerja. Hal ini pula yang dialami oleh Fais anak saya, ketika usianya sudah lebih dari tiga tahun, tidak sepertinya kebanyakan anak seusianya, ia masih mengalami kesulitan dengan kemampuan verbalnya. Jika diajak untuk  berbicara maka belum terjalin komunikasi yang baik.

Menghadapai kenyataan demikian maka timbulah perasaan cemas, takut, iba bercampur aduk menjadi satu, yang jika dituruti, tanpa kita sadari justru menyalahkan orang lain, misalnya menyalahkan pengasuh anak yang terlalu pendiam atau menyalahkan pasangan yang terlalu sibuk  bekerja. Bagaimanapun juga kemampuan verbal anak tetaplah menjadi tanggung jawab orang tua dan dengan  usaha yang  sungguh-sungguh tentu kita dapat membantu anak untuk menguasainya,  tips yang dapat dilakukan;

Wednesday, March 21, 2012

Bijaklah Menghadapi Orang Tua


Setelah melihat sebuah acara reality show di televisi, perihal orang tua yang sudah renta dengan kondisi penglihatan yang sudah kabur, pergi meninggalkan rumah anaknya dan memilih tinggal di sebuah makam karena merasa "diusir" oleh menantu, saya jadi merenung, terlepas apakah acara tersebuat hanya sebuah rekayasa ataupun bukan, kondisi ini memang ada disekeliling kita, saya jadi membayangkan jika suatu saat kondisi serupa menimpa kepada diri saya sendiri, alangkah sedih dan mirisnya.