gambar: https://www.instagram.com/desarangkat/reel/DbhHoAETNnu/
Benz mengepulkan asap rokoknya pelan. Matanya menatap dalam, menanggalkan tawa nakal yang biasa tersungging.
“Jingga,” bisiknya lirih, “saku bajuku sudah lama robek. Tak ada bahagia yang sanggup kusimpan di sana.”
Lalu ia menatap ujung kreteknya yang makin meredup, namun tangannya yang gemetar tak mampu memantik api baru.
Malam dingin kian menelanjangi sunyi di antara mereka.
“Bahagiamu tak pernah pergi,” sahut Jingga seraya tersenyum tipis, menyesap rokoknya untuk kali terakhir.
“Kamu hanya lupa cara memeluknya.”
Di bawah remang lampu keduanya tersadar, mereka hanyalah dua jiwa sepi yang takut pada bayangan masing-masing, terjebak dalam larut malam tanpa tahu ke mana arah pulang.

No comments:
Post a Comment