Berawal dari rayuan kemenakan saya,
yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar, pada suatu kesempatan di hari
libur akhir pekan, Ia meminta saya
mengantarkanya ke tempat bermain anak-anak di Pasifik Place, Jakarta Selatan, menurut
gurunya di sekolah, tempat ini disarankan untuk dikunjungi, sebagai tempat
untuk bermain sambil belajar.
Seperti berada di sebuah kota kecil
nan ramai, dan penduduknya terdiri dari
bermacam profesi orang dewasa namun di perankan oleh anak-anak di kota
tersebut. Layaknya sebuah kota yang sesungguhnya, disana juga terdapat hotel,
rumah sakit, super market, alat transportasi umum, salon, tempat
berolahraga, kantor pajak, bank, kantor polisi, kawasan industri, terdapat juga
bioskop, restoran, kampus dan masih banyak yang lainnya.
Itulah
yang saya rasakan ketika pertama kali masuk kedalam wahana permainan Kidzania yang
dimaksud oleh kemeneakan saya tersebut. Dengan
konsep edutaiment, bermain sambil belajar untuk anak-anak usia dua sampai
dengan enam belas tahun, Kidzania merupakan sebuah wahana permainan dengan
konsep yang berbeda dari yang lain, karena sambil bermain, anak-anak dapat
belajar bekerja, mencoba berbagai profesi pekerjaan yang di kerjakan oleh orang
dewasa. Berbagai profesi bisa dipilih oleh anak-anak, seperti dokter, perawat,
pilot, pramugari, pengacara, petugas pemadam kebakaran, penjaga toko,
penjaga pom bensin, wartawan, pembersih kaca gedung, aktris/aktor dan masih
banyak profesi lainya.
Saya jadi teringat puluhan tahun
lalu, saat masa kanak-kanak, sebagai anak yang lahir di desa, tentu saya
tidak bisa menemukan wahana permainan seperti ini dan rasanya memang belum ada.
Tetapi yang saya ingat ketika kanak-kanak dulu, saya bersama temen-teman sebaya
bermain konsep peran orang dewasa dengan bermain "kerajaan", kami
membangun terowongan di semak belukar yang masih rindang, membuat rumah-rumahan
untuk membangun kerajaan, ada anak yang berperan sebagai raja, lalu yang lain
menjadi patih, panglima, parajurit dan rakyat biasa, juga berpura-pura melakukan
jual beli barang. Untuk transaksi jual
beli, kami menggunakan daun sebagai pengganti mata uang. Biasanya kami membagi
dua kelompok, yang kemudian saling
berperang, dan permainan akan berakhir ketika salah satu dari kelompok tersebut
di kuasai oleh kelompaok lainnya.
Berbeda dengan cerita "kerajaan" yang saya mainkan pada
waktu kecil tersebut, Kidzania tentu lebih terlihat modern, karena fasilitas
dan profesi yang ada, di sesuaikan dengan kondisi terkini. Mata uang yang di gunakan pun sudah menggunakan
kertas, yang diberi nama Kidzos, dilengkapi dengan fasilitas ATM, dan tempat
menabung berupa bank. Uang kidzos tersebutlah yang berlaku untuk membeli barang
di supermarket atau membeli jasa seperti menyewa mobil taksi di kota Kidzania.
Jika sewaktu kecil ketika ditanya
apa cita-cita saya setelah besar nanti, saya hanya bisa menjawab dan
membayangkan pekerjaan yang saya cita-citakan tersebut. Namun di Kidzania
anak-anak bisa langsung belajar pekerjaan apa yang akan di lakukan sesuai
dengan cita-citanya, walaupun tidak persis sama dengan kondisi yang nyata.
Sebelum memasuki arena permainan,
anak-anak di bekali cek senilai lima puluh Kidzos yang harus ditukarkan dengan
uang kidzos di bank yang tersedia untuk dapat membeli barang atau jasa di area
Kidzania. Anak-anak bisa menambah Kidzos yang dimilikinya dengan bekerja
di paviliun dengan berbagai macam profesi yang ada, misalnya ada paviliun
berupa toko roti, maka anak-anak bisa bekerja menjadi pembuat roti, dengan
terlebih dahulu diberikan semacam pelatihan oleh instruksur toko dan jika sudah
menyelesaikan pekerjaannya, mendapatkan imbalan atau upah berupa kidzos dari
toko roti tersebut.
Banyak paviliun lain yang pasti
menarik minat anak-anak untuk mencobanya, seperti simulator pesawat terbang,
disini anak-anak bisa mencoba profesi sebagai pilot atau pramugari, studio tv,
stasiun radio atau mencoba berbagai macam profesi di dunia infotaimnet seperti
model, pemain teater, pesulap yang di sediakan tempat untuk menunjukan
kebolehanya dan bisa disaksikan oleh pengunjung. Orang tua yang mendampingi
tidak di perkenan masuk kedalam paviliun, namun mereka dapat mengawasi dan
melihat apa yang sedang di kerjakan oleh anak-anaknya dari luar karena paviliun
berdidinding kaca transparan.
Wahana permainan ini bisa dijadikan alternatif untuk mengisi liburan akhir pekan anda bersama buah hati tercinta. Dengan konsep bermain sambil belajar, mereka akan memperoleh pengalaman yang berbeda. Namun tiket masuk Kidzania lumayan mahal, di hari libur satu tiket dihargai seratus lima belas ribu rupiah dengan durasi lima jam, orang tua yang mendampingi pun dikenakan biaya masuk sebesar tujuh puluh lima ribu rupiah, tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar dengan pemeriksaan yang ketat dan tidak banyak wahana permainan yang bisa diikuti oleh anak-anak yang masih berusia dibawah empat tahun. Tersedia lounge bagi orang tua yang mendampingi dan musola untuk tempat beribadah. Untuk memberikan pengalaman baru kepada buah hati tercinta, Kidzania terekomendasi untuk dicoba. Selamat mencoba.

No comments:
Post a Comment