Tuesday, August 27, 2013

Mengatasi Problema Rumah Tangga Muda



Rumah tangga yang harmonis tentu menjadi  impian setiap keluarga.  Sebagai seorang suami tentu saya ingin agar istri merasa bahagia ketika berada di dekat saya. Suami mana  yang tidak ingin membahagiakan istri.  Karena ketika  akad atau sumpah pernikahan sudah dilaksanakan, berarti tanggung jawab orang tua sudah beralih kepada suami sebagai kepala rumah tangga.

Menjadi suami dalam keluarga kecil yang baru beberapa tahun dijalani, saya mulai  menemukan hal-hal kecil yang membuat saya menjadi  stress, jenuh, bosan, senang, tertawa, bersedih dan lain sebaginya, bisa dibayangkan saya yang  dahulunya terbiasa hidup bebas, bujangan, tanpa ada beban keluarga, kini harus menjalani hal-hal baru yang ditemui di keluarga kecil, yang tidak pernah ditemui sebelumnya.


Menemani istri berbelanja, kegiatan yang membuat saya jenuh, walaupun tidak setiap hari tapi menunggui istri berbelanja benar-benar membuat jenuh saya, bagaimana tidak, mungkin sudah menjadi kodrat sebagian wanita,  selalu teliti dalam memilih barang yang hendak dibelinya, sehingga tidak heran apabila istri sedang berbelanja akan membutuhkan waktu yang lama, memilih barang yang bagus tapi dengan harga yang semurah-murahnya, prinsip ekonomi benar-benar diterapkan dalam hal ini, bisa dibayangkan betapa jenuhny menemaninya, berdiri berjam-jam seperti panspampers mengawal presidennya he.he.

Mengajak anak ketika sedang menemani istri berbelanja itu yang biasa saya lakukan untuk mengatasinya, dan biasanya saya memberikan saran istri untuk berbelanja di tempat yang menyediakan tempat bermain anak-anak, sehingga istri bisa memuaskan nafsu berbelanjanya sedangkan saya tidak perlu bete menungguinya, menemani anak bermain sudah cukup menjadi hiburan tersendiri.  Jika istri masih lupa dan asyik dengan kegiatanya anak pun bisa dijadikan alasan saya untuk “memaksa” istri pulang he.he…

Istri terlalu sibuk dengan pekerjaanya, sehingga lupa atau tidak sempat mengurus anak.  Ternyata tidak selamanya nyaman mempunyai istri yang juga bekerja, sehingga karena kesibukan anak dilupakannya, lalu urusan anak seperti memberi makan, memandikan anak, membuat susu pun diserahkan semuanya kepada baby sitter, jika itu di hari kerja mungkin saya bisa memakluminya tapi bila di hari libur pun istri tidak sempat juga, dengan alasan ingin istirahat karena capek bekerja, hal ini juga bisa membuat saya menjadi  jengah, bagaimanapun sibuknya orang tua, mengurus anak adalah tetap kewajiban.

Mengalah dan belajar memengurus anak itu yang saya jadikan solusinya, mengalah bukan berarti kalah, mungkin bagi sebagian besar suami kegiatan mengurus anak-anak seolah adalah hal tabu, karena tugas suami adalah mencari nafkah untuk memenuhi kehidupan keluarga, sehingga mengurus anak adalah menjadi tanggungjawab istri, tapi jika istri juga bekerja, karena penghasilan suami belum mencukupi, menjadi serba salah posisi suami.

Tidak ada salahnya jika suami mau membantu istri mengerjakan hal-hal yang sebenarnya mudah tapi karena  gengsi  menganggap suami adalah kepala rumah tangga, ingin menjaga wibawa, sehingga urusan tetek bengek anak adalah wajib hukumnya di kerjakan oleh istri. Tidak selamanya pendapat ini benar, karena anak-anak akan merasa dekat dengan orang tuanya manakala ia mendapat perhatian dari orang tuanya. Nah inilah peluang emas seoarang ayah untuk dekat dengan anaknya, coba perhatikan ekspresi anak ketika dia menerima susu buatan ayahnya, atau saat menggantikan popoknya, seakan ada ikatan bathin yang semakin membuat erat hubungan ayah dengan anak. Jika sang istri masih tetap lupa, saya hanya memberinya nasehat, kalau tidak mau mengurus anak, siapa yang akan mengurus kita kelak bila sudah menjadi kakek nenek, apa mau tinggal di panti werda he.he..

Istri meributkan hal-hal yang sepele dan tidak penting, pertengkaran dalam rumah tangga menurut orang-orang tua adalah bagian dari bumbu orang berumah tangga,  tapi jika hal-hal kecil yang menjadi penyebab pertengkaran itu, bosan juga dibuatnya, misalnya saja hanya karena terlambat sepuluh menit menjemput, maka sang istri mengomel mengatakan sudah berubahlah, tidak sayang lagi lah, tanpa mau mendengar alasan keterlambatanya lagi.

Diam dan jangan terpengaruh emosi adalah solusi yang biasa saya ambil. Karena jika  ikut meladeninya yang ada bukan penyelesain masalah, malah bisa merembet ke hal-hal yang lain, biarkan istri ngomel sampai puas, cukup saya tanggapi dengan senyuman dijamin tidak lama istri sudah bermanja-manja lagi. Jika emosinya sudah reda baru bisa saya  menyampaikan alasan dan penyebabnya, pun biasanya cukup dengan bahasa sindiran atau canda, sehingga masalah bisa dituntaskan tanpa harus saling menyakiti.

Menemukan kebiasaan-kebiasaan buruk pasangan, masa-masa berpacaran adalah masa-masa yang paling indah, masa pendekatan, masa mencari kecocokan, jadi masih banyak kebiasan-kebiasaan buruk dari pasangan kita yang ditutup-tutupi, tapi ketika sudah berumah tangga, barulah semua kebiasaan buruknya terlihat di depan mata, menerima segala kekurangan itu dengan lapang dada adalah solusinya, karena tidak  ada manusia yang sempurna.

Sebenarnya masih banyak hal lain yang saya temui selama menjali kehidupan rumah tangga yang masih menginjak balita ini. Tulisan ini hanya sebagian kecil dari dinamika berumah tangga, mengagabungkan dua orang manusia yang memang berbeda sungguh bukanlah hal yang mudah, butuh waktu, butuh kesabaran, butuh nasehat dari orang yang lebih berpengalaman, tapi semakin kuat menghadapinya maka menjadi semakin bijaklah kita. 

gambar: www.kaltimpost.co.id

No comments:

Post a Comment