Rumah tangga yang harmonis tentu menjadi
impian setiap keluarga. Sebagai seorang suami tentu saya ingin agar
istri merasa bahagia ketika berada di dekat saya. Suami mana yang tidak
ingin membahagiakan istri. Karena ketika akad atau sumpah pernikahan
sudah dilaksanakan, berarti tanggung jawab orang tua sudah beralih
kepada suami sebagai kepala rumah tangga.
Menjadi suami dalam keluarga kecil yang
baru beberapa tahun dijalani, saya mulai menemukan hal-hal kecil yang
membuat saya menjadi stress, jenuh, bosan, senang, tertawa, bersedih
dan lain sebaginya, bisa dibayangkan saya yang dahulunya terbiasa hidup
bebas, bujangan, tanpa ada beban keluarga, kini harus menjalani hal-hal
baru yang ditemui di keluarga kecil, yang tidak pernah ditemui
sebelumnya.
Menemani istri berbelanja,
kegiatan yang membuat saya jenuh, walaupun tidak setiap hari tapi
menunggui istri berbelanja benar-benar membuat jenuh saya, bagaimana
tidak, mungkin sudah menjadi kodrat sebagian wanita, selalu teliti
dalam memilih barang yang hendak dibelinya, sehingga tidak heran apabila
istri sedang berbelanja akan membutuhkan waktu yang lama, memilih
barang yang bagus tapi dengan harga yang semurah-murahnya, prinsip
ekonomi benar-benar diterapkan dalam hal ini, bisa dibayangkan betapa
jenuhny menemaninya, berdiri berjam-jam seperti panspampers mengawal
presidennya he.he.
Mengajak anak ketika sedang menemani
istri berbelanja itu yang biasa saya lakukan untuk mengatasinya, dan
biasanya saya memberikan saran istri untuk berbelanja di tempat yang
menyediakan tempat bermain anak-anak, sehingga istri bisa memuaskan
nafsu berbelanjanya sedangkan saya tidak perlu bete menungguinya,
menemani anak bermain sudah cukup menjadi hiburan tersendiri. Jika
istri masih lupa dan asyik dengan kegiatanya anak pun bisa dijadikan
alasan saya untuk “memaksa” istri pulang he.he…
Istri terlalu sibuk dengan pekerjaanya,
sehingga lupa atau tidak sempat mengurus anak. Ternyata tidak
selamanya nyaman mempunyai istri yang juga bekerja, sehingga karena
kesibukan anak dilupakannya, lalu urusan anak seperti memberi
makan, memandikan anak, membuat susu pun diserahkan semuanya kepada baby
sitter, jika itu di hari kerja mungkin saya bisa memakluminya tapi bila
di hari libur pun istri tidak sempat juga, dengan alasan ingin
istirahat karena capek bekerja, hal ini juga bisa membuat saya menjadi
jengah, bagaimanapun sibuknya orang tua, mengurus anak adalah tetap
kewajiban.
Mengalah dan belajar memengurus anak itu
yang saya jadikan solusinya, mengalah bukan berarti kalah, mungkin bagi
sebagian besar suami kegiatan mengurus anak-anak seolah adalah hal tabu,
karena tugas suami adalah mencari nafkah untuk memenuhi kehidupan
keluarga, sehingga mengurus anak adalah menjadi tanggungjawab istri,
tapi jika istri juga bekerja, karena penghasilan suami belum mencukupi,
menjadi serba salah posisi suami.
Tidak ada salahnya jika suami mau
membantu istri mengerjakan hal-hal yang sebenarnya mudah tapi karena
gengsi menganggap suami adalah kepala rumah tangga, ingin menjaga
wibawa, sehingga urusan tetek bengek anak adalah wajib hukumnya di
kerjakan oleh istri. Tidak selamanya pendapat ini benar, karena
anak-anak akan merasa dekat dengan orang tuanya manakala ia mendapat
perhatian dari orang tuanya. Nah inilah peluang emas seoarang ayah untuk
dekat dengan anaknya, coba perhatikan ekspresi anak ketika dia menerima
susu buatan ayahnya, atau saat menggantikan popoknya, seakan ada ikatan
bathin yang semakin membuat erat hubungan ayah dengan anak. Jika sang
istri masih tetap lupa, saya hanya memberinya nasehat, kalau tidak mau
mengurus anak, siapa yang akan mengurus kita kelak bila sudah menjadi
kakek nenek, apa mau tinggal di panti werda he.he..
Istri meributkan hal-hal yang sepele dan tidak penting,
pertengkaran dalam rumah tangga menurut orang-orang tua adalah bagian
dari bumbu orang berumah tangga, tapi jika hal-hal kecil yang menjadi
penyebab pertengkaran itu, bosan juga dibuatnya, misalnya saja hanya
karena terlambat sepuluh menit menjemput, maka sang istri mengomel
mengatakan sudah berubahlah, tidak sayang lagi lah, tanpa mau mendengar
alasan keterlambatanya lagi.
Diam dan jangan terpengaruh emosi adalah
solusi yang biasa saya ambil. Karena jika ikut meladeninya yang ada
bukan penyelesain masalah, malah bisa merembet ke hal-hal yang lain,
biarkan istri ngomel sampai puas, cukup saya tanggapi dengan senyuman
dijamin tidak lama istri sudah bermanja-manja lagi. Jika emosinya sudah
reda baru bisa saya menyampaikan alasan dan penyebabnya, pun biasanya
cukup dengan bahasa sindiran atau canda, sehingga masalah bisa
dituntaskan tanpa harus saling menyakiti.
Menemukan kebiasaan-kebiasaan buruk pasangan,
masa-masa berpacaran adalah masa-masa yang paling indah, masa
pendekatan, masa mencari kecocokan, jadi masih banyak kebiasan-kebiasaan
buruk dari pasangan kita yang ditutup-tutupi, tapi ketika sudah berumah
tangga, barulah semua kebiasaan buruknya terlihat di depan mata,
menerima segala kekurangan itu dengan lapang dada adalah solusinya,
karena tidak ada manusia yang sempurna.
Sebenarnya masih banyak hal lain yang
saya temui selama menjali kehidupan rumah tangga yang masih menginjak balita ini.
Tulisan ini hanya sebagian kecil dari dinamika berumah tangga,
mengagabungkan dua orang manusia yang memang berbeda sungguh bukanlah
hal yang mudah, butuh waktu, butuh kesabaran, butuh nasehat dari orang
yang lebih berpengalaman, tapi semakin kuat menghadapinya maka menjadi
semakin bijaklah kita.
gambar: www.kaltimpost.co.id
No comments:
Post a Comment