Tidak terasa tahun 2013 telah berlalu berganti menjadi tahun 2014, lika liku hidup telah dijalani sampai akhir tahun ini. Ada cerita bahagia, getir dan duka, berbaur menjadi satu, semua menjadi bagian dari sejarah perjalan panjang kehidupan. Banyak cerita bahagia disepanjang tahun ini, namun ada dua kisah bahagia saja yang ingin saya bagikan dengan harapan ada hikmah yang bisa diambil dari cerita ini.
Kebahagian pertama saya adalah keponakan saya menikah di akhir tahun 2013 ini, hei.. menikah kan cuma kebahagiaan biasa, oh bagi saya tidak, karena ada cerita panjang yang mengulir di belakangnya. Keponakan saya tersebut menikah dalam usia yang bagi sebagian orang sudah melewati batas umurnya. Ya, sebagai keluarga besar saya dilahirkan sebagai anak bungsu dari delapan bersaudara, sehingga saya harus menerima takdir bahwa umur saya hanya berjarak satu tahun dengan keponakan saya tersebut, sedangkan saya sudah menikah lima tahun yang lalu dalam usia yang menurut pandangan agama yang saya anut adalah usia yang sudah lebih dari cukup ( more than twenty-five years) dan telah dikarunia seorang anak yang sehat.
Menjadi beban tersendiri bagi anak pertama dari kakak laki-laki saya yang kedua tersebut, setidaknya menurut pandangan saya selama ini, adalah karena dia seorang perempuan. Ya perempuan, yang lebih banyak menunggu datanngya seorang arjuna untuk menjadi pendamping hidupnya. Dia adalah seorang pejuang dan pekerja keras, saya tahu itu, dibuktikan dengan ia mampu menyelesaikan kuliahnya di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta dengan usahanya sendiri sambil bekerja di kantin kampus tempat ia menuntut ilmu, karena orangtuanya di kampung sana hanya berasal dari keluarga biasa, bekerja sebagai petani dan penjahit musiman.
Lalu selesai kuliah, ia bekerja di beberapa tempat di Jakarta dan Bogor sampai akhirnya dia memutuskan kembali ke kotanya untuk bekerja dan lebih dekat dengan keluarga. Tidak egois, walaupun selama menyelesaikan kuliahnya dia secara materi hampir tidak pernah di bantu oleh orangtuanya, dia tetap mengirimkan sebagian dari hasilnya bekerja ke orangtuanya di kampung dan saya tahu persis itu, saat itu saya dan dia memang sedang dalam masa perjuangan menyelesaiakan kuliah kami masing-masing dengan cara yang sama hanya tempat saja yang berbeda.
Karena kesibukannya itulah mungkin yang membuat dia harus menunggu lama sebelum bertemu dengan jodohnya, dan itu tetap dijalaninya dengan istiqomah. Walapun beban berat itu harus semakin terasa berat, ketika ia kembali kotanya terutama saat ia pulang ke kampung orangtuanya. bisik-bisik tetangga dari yang hanya sekedar bertanya, cobiran bahkan fitnah diterimanya dengan lapang dada. Beberapa lelaki pun pernah datang, tapi karena bukan jodohnya sehingga pernikahan pun tak kunjung terlaksana. Sampai akhirnya kabar bahagia itupun datang di akhir tahun ini, Yang Maha Kuasa telah menganugerahinya seorang pria yang akhirnya menjadi pendamping hidupnya guna mebina rumah tangga yang sakinah mawahdah warahmah,amin, semoga saja. Akad nikah sudah dilaksanakan dengan syukuran sederhana saja, tapi itu sudah menajadi kebahagian yang tak terkira buat saya dan keluarga.
Kebahagian saya yang kedua di akhir tahun 2013 ini adalah keponakan saya yang juga adalah adik dari keponakan saya yang pertama tadi lulus tes CPNS 2013 untuk formasi guru bahas inggris, kebahagiaan dan kebanggaan yang tiada terkira bagi saya karea juga ada cerita panjang yang mengulir di belakangnya. Singkat ceritanya, dia adalah wanita pejuang juga, walapun ia adalah seorang lulusan diploma tiga, tapi dia masih bersedia ikut dengan saya menjadi pengasuh bagi anak saya karena saya dan istri bekerja, padahal saat itu saya masih tinggal bersama dengan kakak ipar saya di Jakarta, sehingga pekerjaan rumah tangga sudah menjadi pekerjaannya di hari-hari biasa.
Untuk melanjutkan studinya saya sarankan dia untuk mengambil kuliah di Universitas Terbuka sehingga tidak mengganggu aktifitasnya bekerja. Hampir dua tahun dia ikut bersama saya, sampai akhirnya ibunya di kampung sakit yang membuat beberapa organ tubuhnya tidak bisa bekerja dengan normal kembali, sehingga dia harus pulang kampung untuk merawat ibunya. Untuk mengisi kesibukan, keponakan saya tersebut mengajar di madrasah ibtidaiyah dengan honor ala kadarnya, tapi hampir semua hasilnya ia gunakan untuk membantu keluarga, sedangkan untuk kuliahnya ia terbantu karena mendapat beasiswa dari kampusnya.
Selesai kuliah di Universitas Terbuka, tahun ini keponakan saya mencoba peruntungan dengan melamar menjadi CPNS untuk formasi guru, sebelumnya dia pernah dua kali mengikuti tes serupa dengan menggunakan ijazah diplomanya, tapi masih gagal sehingga ini menjadi tes yang ketiga. Sebagai seorang paman, saya selalu memberinya keyakinan dan motivasi bahwa suatu saat pasti dia bisa lulus tetapi harus diiringi dengan kerja keras dan do'a dari kelaurga, saya berikan tips seperti yang pernah saya tulis di sini , dan alhamudillah akhirnya tahun ini juga, ia bisa lulus tes CPNS tersebut tanpa harus membayar uang sepeser pun.
Itulah dua kebahagiaan yang tiada terkira yang mengiringi pergantian tahun baru 2013 ini, jika kita mengambil hikmah dari kisah saya ini, jodoh, rezeki dan umur adalah milik Yang Maha Kuasa sang Pencipta alam semesta, sebagai mahluk ciptaan-Nya kita hanya mampu berusaha maksimal untuk menggapainya, setelah berusaha maksimal maka do'a adalah obat mujarab hati kita, untuk senantiasa pasrah dan menerima takdir yang akan kita terima.
Tahun 2014 sudah di mulai ditapaki, banyak harapan yang ingin di gapai di tahun ini, yang paling utama adalah bisa berkumpul dengan kelarga kecil saya, karena sudah hampir empat tahun berjalan saya harus terpisah jarak karena tuntuan tugas pekerjaan dan salah satu cara yang bisa membuat saya berkumpul kembali setidaknya sementara waktu adalah dengan mendapatkan beasiswa, inilah resolusi jangka pendek saya di tahun ini, meski usaha mungkin belum bisa maksimal karena harus bisa berbagi waktu dengan keluarga dan pekerjaan semoga saja saya bisa.
Selamat tahun baru 2014, semoga kesuksesan selalu menyertai langkah kita di tahun ini, amin.
gambar: http://slazhpardede.com

No comments:
Post a Comment