Praktik pemilihan langsung, sudah dijalankan oleh sekolah saya, sejak dulu, melalui pemilihan ketua OSIS. Tahun 1998, jaman masih sekolah di SMA, saat presiden, gubernur, bupati, dan walikota masih dipilih oleh anggota Dewan Perwilan Rakyat dan Daerah. Prosesnya, dimulai dengan penyaringan kandidat, dari perwakilan setiap kelas 2 (sekarang kelas 11), oleh panitia pemilihan. yaitu pengurus OSIS sebelumnya. Saya menjadi salah satu calon dari 5 calon yang berhasil di jaring oleh panitia.
Masing-masing calon melakujan kampanye, menyampaikan visi dan misinya, jika terpilih menjadi ketua OSIS, di tengah lapangan sekolah, yang biasanya dipakai, untuk upacara atau olahraga. Disiapkan mimbar. Layaknya pidato-pidato para calon presiden, ditonton oleh seluruh siswa dan guru, seru sekali.
Semua kandidat berpidato, di elu-elukan, oleh pendukung, disorakin oleh pendukung lawan. Bahkan saling ejek. Untuk menjatuhkan mental. Tapi tidak sampai berkelahi.