Thursday, November 13, 2025

Jama'ah Ududiyah

 


 gambar: https://ottencoffee.co.id/

Sebagai mantan jamaah ududiyah,  istilah bagi perokok berat, saya adalah juga penggemar berat kopi. Sehari minimal tiga gelas, bahkan bisa lebih. Karena sudah berhenti dan keluar dari jamaah ududiyah, maka aktifitas ngopi pun ikut berhenti. Apa enaknya ngopi tanpa ngudud? 

Dahulu, aktifitas ini seperti menjadi rutinitas.Yang harus dijalani setiap pagi. Bahkan sewaktu-waktu, ketika hasrat itu datang. Selama menjadi jamaah ududiyah, kopi yang paling sering menjadi pilihan adalah kopi asli, seperti kopi Lampung, Aceh, Toraja, Sidikalang atau kopi-kopi jenis yang lain. Tidak jarang juga kopi sachetan, meskipun bukan merk kapal api. Dulunya tidak terlalu suka, karena rasanya tidak sepekat kopi yang biasa diminum. Seperti ada campuran lain di dalamnya. 

Tapi saya punya temen yang juga jamaah ududiyah. Penggemar berat kopi kapal api. Tidak mau ngopi kalau bukan kapal api. Sehari mungkin bisa lebih dari lima gelas. Kuat sekali ngopi. Sama kuatnya dengan ngududnya. Sudah divonis diabet oleh dokter, tapi masih saja menjadi penggemar berat kapal api. Banyak temen yang menyarankan untuk berhenti, mengingat kesehatnya. Tapi tidak digubris. Harusnya pemilik kapal api memberikan penghargaan untuk para penggemar beratnya yang seperti ini. 

Ada salah satu iklan kopi di televisi, awali hari mu dengan secangkir kopi. Tapi maaf saya sudah tidak ngopi lagi, kata dokter yang terbaik adalah minum air putih yang cukup di pagi hari, supaya ginjal aman, apalagi jika sudah ada obat rutin yang harus diminum setiap hari.

No comments:

Post a Comment