Thursday, January 6, 2011

Nasib Seorang Pelayan Masyarakat


"Gajinya belum bisa keluar bulan ini mas, karena masih di urus di KPPN", demikian penjelesan dari Ana rekan satu angkatan Faiz teman saya yang hijrah ke kantor di daerah sebagai konsekuensi dari tugas seorang pelayan masyarakat yang mau tak mau, siap tak siap, harus bersedia jika di tempatkan di daerah, terpencil sekalipun. Toh itu sesuai dengan surat pernyataan yang pernah dia buat ketika melengkapi berkas persyaratan mendaftar, ada butir yang menyebutkan bahwa dia siap ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 
Bingung, ya bingung, sebagai pegawai baru dengan golongan III/a, yang ganjinya tidak sebesar Gayus pegawai dirjen pajak itu, walupun golongannya sama, dan menghidupi seorang istri dengan satu anak yang sedang lucu-lucunya, berita ini cukup membuatnya shock. Karena tabungannya yang sedikit, hasil dari bekerja di perusahaan swasta sudah habis terkuras, sementara kebutuhan hidup harus tetap dicukupi. Namun dia tetap yakin dan optimis bahwa rezeki itu bisa datang dari mana saja.


Masih beruntung istrinya yang tinggal di kota lain juga bekerja, sehingga ketika di jelaskan kondisi ini kepadanya walaupun dengan sedikit omelan akhirnya mau mengerti juga. Omelanya bukan karena uang setoran yang tidak dia terima, tapi kenapa setalah lima bulan dia pindah tugas, proses administrasi yang harus di lengkapi kantor di daerah belum selesai juga? padahal kelengkapan berkas yang diminta sudah dicukupi. Belum lagi uang kehadiran atau biasa disebut uang makan, yang pun tak seberapa jumlahnya belum pernah diterima semenjak ia pindah disana. Duh susahnya birokrasi di negeri ini, sehingga Faiz yang sudah menjadi bagianya pun ikut terkena imbasnya.

Menjadi pengabdi masyarakat memang tidak pernah terlintas di angan-angan Faiz temen saya itu, semua mengalir dengan sendirinya, tapi semua tetap disyukuri sebagai karunia Ilahi. Dengan gelar sarjana yang sudah diraih, orang tua dan keluarganya di kampung sana mengharapkan agar dia bisa menjadi pelayan masyarakat, bukan karena itu pekerjaan yang membanggakan setidaknya menurut orang-orang di kampungnya, melainkan benar-benar tulus mengabdi kepada masyarakat, dan mewarnainya dengan hal-hal yang baik tentunya, karena citranya yang buruk dikalangan masyarakat banyak, hal ini dibuktikan dengan banyaknya cacian, makian dan hujatan dari lingkungan masyarakat, termasuk dari sebagian kompasianer, yang belum mengerti tentunya.

Semua proses demi proses dia lalui, benar-benar dengan kerja keras dan do'a keluarga tanpa memberikan uang sepeser pun, akhirnya dia diterima menjadi seorang pelayan masyarakat, ketika hampir satu tahun setengah berjalan, semua mulai tampak di depan matanya, dari perlakuan pegawai lama yang tidak bersahabat menyambut kepindahan dia dan teman-temannya yang lain, gosip dan fitnah yang diterima belum lagi suara-suara di luar sana yang mengatakan bahwa kantor tempat dia bekerja itu tidak transparan dan akuntable, banyak calo, makelar, dan lain sebagainya, toh dia tetap menjumpai pegawai dan pejabat yang santun, taat beribadah serta memiliki idialisme, pandangan dan pemikiran yang patut untuk di contoh.
Tulisan ini mungkin hanya sebagian kecil dari gambaran nasib dari seorang pelayan masyarakat seperti Faiz temen saya itu, semua diterima dengan lapang dada, semua tentu ingin perubahan dan perbaikan ke arah yang lebih baik. Harapan itu tetap ada, ya harapan yang entah sampai kapan bisa terwujud, alangkah indahnya jika Good Government di negeri ini benar-benar terwujud. Salam.
Catatan:
Pelayan Masyarakat = PNS (Pegawai Negeri Sipil)

No comments:

Post a Comment