Thursday, January 20, 2011

SPPD oh... SPPD



"Malam ini saya harus pulang ke Jakarta", suara Faiz diseberang telepon terdengar lesu. "Saya tidak tega mendengar anak saya di rumah hanya dengan baby sitter, bagaimana kalau anak saya tiba-tiba sakit, siapa yang akan mengurus?"

"Lho memang mamanya kemana, koq anakmu ditinggal sendiri sama baby sitter?", aku mulai menanggapi obrolannya.

"Pagi ini istri saya mendapat tugas dinas ke Palangkaraya dari kantornya, jadi anak saya ditinggal dirumah, tidak mungkin kan anak saya dibawa, selain merepotkan karena masih kecil, juga tidak ada anggaran tambahan jika ingin mengajak keluarga untuk dinas ke luar kota". Ia pun menjelaskan.

"Kenapa istrimu tidak menolak saja, nanti kan bisa digantikan dengan pegawai yang lain?", yang saya ketahui istri teman saya ini memang pegawai negeri juga, tapi di instansi pemerintah yang berbeda.


"Mau menolah gimana? dinas luar kota itu juga termasuk tugas pegawai, sebagai pegawai pusat, tugas merekalah untuk melakukan sosialisai, bimbingan teknis, dan melakukan evaluasi tentang peraturan ataupun hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan pusat ke daerah-daerah".

"Oh begitu ceritanya". Ah sebenarnya itu menurut saya jawaban yang klise, untuk hal yang berkaitan dengan teknis mungkin bisa dimaklumi, tapi kalau hanya untuk sosialisai, apakah mesti harus turun ke daerah, bukankah sudah banyak media online yang bisa digunakan. Tapi ya itulah yang terjadi di negeri ini hal-hal yang mudah, bisa menjadi sulit, hal ini memang bisa dikarenakan minimnya peralatan yang menunjang dan memadai atau Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak tersedia.

Karenanya tidak heran jika anggota dewan pun tetap ngotot pergi ke luar negeri hanya untuk belajar etika, selain bisa plesiran ke luar negeri dengan dibiayai negara, plus masih mendapat uang perjalanan dinas yang sudah pasti lumayan juga, padahal banyak cara yang lebih masuk akal jika hanya ingin belajar etika. Mungkin juga mereka pura-pura atau memang gaptek (gagap teknologi), sehingga teknologi online tidak mereka kenal.

"Ya sudahlah bersabar saja, bukankah uang SPPD nya bisa jadi tambahan untuk membeli susu anakmu ?" saya pun menghiburnya.

"Terus terang memang itulah salah satu pertimbangan saya, di satu sisi saya ingin istri saya lebih memperhatikan anak saya, tapi di sisi lain darimana istri saya mendapat tambahan uang, kalau bukan dari uang perjalanan dinas, walaupun jumlahnya tak seberapa juga".

"Karena gaji kami berdua jika digabungkan masih pas-pasan juga untuk mencukupi kebutuhan keluarga, kamu tahu sendirilah hidup di Jakarta, ada uang buat sewa tempat tinggal dan makan pun sudah bersyukur".

"Lho memang kamu tidak berniat membeli rumah atau mobil, banyak koq pegawai negeri yang hidupnya berlebihan?", saya bertanya sambil bercanda.

"Ah kamu ini mengejek saya, kalau cuma niat ya pasti ada, siapa yang tidak mau punya rumah, mobil dan banyak uang, tapi ya itukan cuma niat, siapa yang percaya kalau pegawai negeri itu bisa kaya cuma dari hasil kerjanya, seandainya pun saya bertemu om jin dan menawarkan apa permintaan saya, ketika saya bilang mau kaya, pasti om jin pun akan berkata: " ngimpi.. mau kaya koq jadi pegawai negeri, memangya mau korupsi ha.ha.ha." jawabnya sambil bercanda, saya tertawa juga dibuatnya.

"Lalu kenapa tidak kamu ajak pindah saja istrimu ke daerah?" saya bertanya lagi.

"Seperti tidak tahu saja kamu ini, pegawai biasa seperti saya ini tidak mudah untuk mengajukan pindah tugas, ada prosedur yang harus di penuhi".

"Walaupun undang-undang telah mengaturnya, toh dalam pelaksanaanya tetap tidak semudah yang dibayangkan, ya sudahlah mungkin saya butuh waktu untuk penyesuain saja, siapa tahu dalam perjalanan waktu, orang-orang penting itu mengerti kondisi yang sebenarnya di lapangan". Ujarnya sebelum kami menutup obrolan .

Harapan seorang pengabdi negara yang ingin menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai pelayan masyarakat sekaligus kepala rumah tangga bagi keluarganya.

*SPPD = Surat Perintah Perjalanan Dinas

No comments:

Post a Comment