Bergabung dengan komunitas blogger memang memberikan nuansa batin tersendiri, banyak pengatahuan baru yang di dapat. Update berita baru selalu berseliweran di depan mata, menggoda untuk mngklik, membuka dan membacanya. Jika dirasa menarik maka dengan senang hati kita akan memberikan komentar ataupun memberikan rating. Berita apa saja, politik, ekonomi, teknologi, musik, hobi, cerita fiksi sampai tulisan ringan yang mengandung humor.
Kembali kepada selera berita, kadang kala kita menemukan tulisan yang memang "kita butuhkan" dan tak jarang pula kita menemukan tulisan-tulisan yang membuat kita menahan napas, membuat kita mengepal geram, apalagi jika kita tau persis dengan kondisi sebenarnya yang jauh berbeda dengan tulisan yang sedang kita baca. Seringkali emosi terpancing memberikan komentar yang ikut memanaskan suasana, tanpa di sadari kita telah bermain dalam arus dikusi. Terhadap komentar yang kita lontarkan seringkali kita juga tidak sadar bahwa komentar kita tersebut menyingung perasaan orang lain, walupun itu hanya sebuah tulisan hehe atau hahaha jika memang itu dianggap menghina oleh orang lain maka akan tetap dianggap menyinggung perasaan.
Kaitannya dengan judul di atas saya benar-benar merasakan bahwa media itu terkadang kejam menghakimi sesorang yang sedang menjadi bahan pembicaraan, bahkan gosip sekalipun, seperti misalnya kasus Andi Nurpati yang "diduga" memalsukan dokumen negara oleh Mahkamah Konsitusi. Ketika polisi sedang bekerja menyelidiki keterlibatan orang-orang yang diduga menjadi dalangnya, banyak media online yang dengan kejam "menuduh" bahkan "menghakimi" bahwa yang bersangkutan adalah aktornya, seolah-seolah sudah terbukti bersalah, lucunnya polisi sendiri yang sedang menangani kasus tersebut belum menetapkan status apa pun.
Dengan berita yang seringkali menyudutkan, maka penulis menggiring pembacanya untuk mempercayai bahwa berita yang ditulisnya adalah sebuah kebenaran, sehingga kita akan dapat menemui komentar-komentar di bawah tulisan yang menghujat, menghina karena terprovokasi oleh sebuah berita yang belum terbukti kebenarannya secara hukum. tanpa disadari kita kadang ikut terprovokasi memberikan komentar tentu yang sesuai dengan nuansa batin kita. Disinilah faktor "like" dan "dishlike" memegang peranan penting. Jika kita memang tidak "suka" dengan aktor yang menjadi bahan berita tersebut maka kita akan ikut menghujat, menghakimi dan menyerang sesuai dengan keinginan kita. Tetapi ada kalanya kita "suka" dengan sang aktor, maka kita akan membelanya habis-habisan.
Saya hanya membayangkan bagaimana jika kondisi kita ada di pihak seseorang yang sedang menjadi bahan pemberitaan tersebut, bagaimana kah kondisi batinnya melihat berita yang dengan kejam menghakimi tanpa mempertimbangkan asas praduga tak bersalah, dan berfikir suatu saat pun kita bisa saja mengalaminya atau menimpa keluarga kita sendiri. Hugh... hanya bisa mengelus dada..
No comments:
Post a Comment