Monday, June 6, 2011

Surat dari Laut


Surat ini hanya surat biasa dari rakyat kecil biasa juga, pengguna moda transportasi laut dari Merak-Bakauhuni maupun sebaliknya. Sampai kapan nasib kami para pengguna moda transportasi ala rakyat kecil ini benar-benar mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kami bukan menuntut fasilitas yang istimewa karena kami sadar dengan ongkos yang kami bayar untuk memakai moda transportasi tersebut mungkin itulah layanan yang terbaik yang layak kami terima.

Namun tentu kami boleh mempunyai angan-angan akan ada perubahan dan pelayanan yang lebih baik. Pelayanan yang kami harapkan ada perhatian, waktu tempuh antara Merak-Bakauhuni berdasarkan pengalaman bisa ditempuh dalam waktu dua jam setengah, tetapi seringkali kami menemui waktu tempuh yang lebih dari itu, tiga jam, empat jam bahkan kadang sampai lima jam dan enam jam, tanpa ada pemberitahuan yang jelas, padahal kami ingin cepat sampai di rumah, bertemu anak, istri dan keluarga yang hanya bisa berkumpul jika waktu libur tiba.
Mungkin perjalanan yang panjang akan sedikit dilupakan, jika fasilitas di dalam kapal mendapat sedikit perhatian, toilet yang layak, ruang yang bersih dan nyaman, untuk sekedar meluruskan kaki yang sudah lelah berjalan, walaupun kami tahu kami harus mengeluarkan tambahan uang untuk menikmatinya, kantin yang murah untuk menghilangkan lapar dan haus, sehingga kami tidak perlu membawa makanan dari rumah, iya kami bawa dari rumah karena kami tahu harga diatas kapal bisa naik beberapa kali lipat dengan kualitas maaf yang meragukan.

Setelah turun dari kapal kami harus berjalan jauh menuju terminal bus, berjalan kaki dengan barang bawaan yang kami bawa, dengan anak-anak kecil, dengan para orangtua, memang ada porter dan tukang ojek yang siap membantu kami, tapi tentu tidak gratis kami harus menyiapkan ongkos untuk menerima bantuannya, sungguh kami rindu dengan pelabuhan kami yang dulu, karena begitu turun dari kapal, bus sudah menanti di depan mata, soal semrawut bukankah itu tugas pihak-pihak terkait tersebut yang telah dibayar negara untuk mengaturnya.

Oh ya kami juga heran ternyata ada beberapa kapal yang menyediakan fasilitas yang menurut kami lumayan baik, dengan rute yang sama, ongkos yang sama, ruangan yang bersih dan nyaman semuanya gratis tanpa ada biaya tambahan, dengan harga makanan yang masih wajar dan terjangkau, meskipun penyakitnya tetap sama, lama menunggu kapal untuk bersandar, kenapa bisa berbeda?? tidak bisakah diterapkan hal yang sama? ah hanya mereka saja yang tahu.

Terakhir sebagai penutup dari surat kami, tentu kami tidak keberatan jika ongkos dinaikan, asalkan fasilitas yang memadai kami terima, tapi jika tidak, jangan harap kami akan ikhlas membayar kenaikannya.

No comments:

Post a Comment