Sunday, November 13, 2011

Ceraikan Aku, atau EGOmu !

“Sudahlah aku capek dengan keadaan ini”.

Praangggg…. Sebuah piring kembali melayang, memecah kesunyian malam. Gwen hanya menangis melihat perbuatan Falih, suami yang dahulu sangat dikaguminya itu.

“Kalau kamu memang sudah memilih jalan itu, kita bercerai sekarang.” Kembali suara Falih terdengar begitu keras, seakan ingin memecahkan gendang telinga Gwen, apalagi kata-kata terakhir “cerai”.

****
Sepuluh tahun lalu Falih dan Gwen adalah dua orang sahabat yang sama-sama aktif di kegiatan kampus mereka. Falih menjadi ketua senat sedangkan Gwen ketua redaksi koran kampus di bangku kuliah yang sama.

“Siapa Gwen itu? Berani sekali menulis opini tentangku. Kenal pun tidak!” Falih Geram membaca pemberitaan tentang jabantannya sebagai presiden mahasiswa di koran kampus.

“Dia kan ketua jurnalis kampus yang baru. Ah, cari muka saja itu, biar Koran kampus ramai” jawab Erwin sahabat Falih.

Falih melempar Koran ke meja dan bergegas menemui gadis yang membuatnya marah. Di ujung gedung UKM, di ruangan bertuliskan “Redaksi” terdengan suara Falih, bernada protes.

“Kamu ngerti etika nggak sih? Menulis tentang aku tanpa konfirmasi terlebih dulu” bentak Falih keras.

“Loh, koq marah? Itu kan rubrik Opini Mahasiswa, dan yang tertulis di situ semua pendapat dari teman-teman mahasiswa koq. Aku hanya merangkumnya, tidak lebih!” Gwen tak kalah keras.

Falih marah. Tapi,… tidak. Di balik marah itu, Falih terpikat. Gadis itu begitu berani, tegas, dan berwibawa. Falih paling benci gadis manja. Tapi Gwen berbeda. Falih langsung bisa menilainya.

“Tapi kau menyimpulkannya sendiri. Dan kesimpulanmu itu keliru nona!” Falih membalas, lebih pada memancing sebenarnya. Dia menggali pribadi Gwen.

“Oh, maaf saja ‘Mr. Perfect’, aku hanya menarik benang merah dari setiap lontaran opini mereka” jawab Gwen sambil menyilangkan kedua lengan di dada. Ketegasan yang mempesona.

****
Begitulah, pertengkaran mengawali ketertarikan di antara keduanya, Falih yang menawan dengan kewibawaan dan ketegasannya. Gwen mempesona dengan keanggunan dan keramahannya. Keduanya sama-sama aktifis kampus, tak hanya itu, prestasi akademik keduanya pun selalu mengesankan. Falih mengagumi Gwen. Gwen mengagumi Falih. Mereka pun lalu bersahabat. Bagaikan cerita di sinetron, keduanya menjadi pasangan kekasih setelah lama menjadi sahabat.

Hubungan mereka adalah hubungan yang dielu-elukan, baik oleh sesama rekan mahasiswa maupun para dosen. Ya, mereka pasangan ideal. Sempurna.

Namun kini, saat akhirnya mereka telah menikah dan dikaruniai malaikat kecil berusia 2 tahun, kesan ideal itu pudar. Bahkan nyaris hilang. Pertengkaran demi pertengkaran mewarnai rumah tangga mereka. Keduanya menuntut kesempurnaan dalam segala hal. Dua pribadi superior itu tidak mampu menemukan irama yang mampu meleburkan keduanya dalam sebuah harmoni rumah tangga.

****

Akila terbangun dari tidurnya mendengar keributan yang disebabkan oleh pertengkeran kedua orang tuanya, gadis mungil yang manis itu pun menangis, hanya itu yang dia bisa, karena dia belum mengerti apa yang sedang terjadi diantara kedua orang tuanya itu.

Lalu ia memeluk Gwen sang ibunda, pelukannya erat sekali seperti akan di tinggal pergi jauh sekali. Gwen berkaca-kaca, kali ini dia hanya diam, tidak melanjutkan pertengkaran mereka, sebagai seorang yang terpelajar tentu dia tahu konsekuensi dari ucapan suaminya. Talak satu telah di jatuhkan, hanya karena masalah ego, masalah sepele yang kadang terlalu di besar-besarkan.

Bagaimana nasib Akila jika perceraian itu benar-benar terjadi, haruskah malaikat kecil ini menanggung akibat dari keangkuhan dan kesombongan kedua orang tuanya. aku harus mengalah, dalam hati Gwen berbisik, aku harus berubah, aku harus mampu menjadi contoh yang baik bagi buah hatiku…

Falih tengah bersiap keluar rumah ketika dilihatnya Gwen memeluk Akila dalam tangis. Falih menyadari sesuatu. Gwen adalah ibu yang sempurna. Dia bahkan rela berhenti kerja hanya demi membesarkan Akila. Falih menyadari, dia terlalu menuntut lebih.

Falih meletakkan tasnya. Mendekat pada Gwen dan Akila. Falih kemudian memeluk mereka. Gwen makin terisak dalam tangisnya. Tapi kali ini isak tangis haru dan bahagia.

Cerpen Hasil Kolaborasi dengan Ningwang d Agustin  pada Festifal Fiksi Kolaborasi Kompasiana

No comments:

Post a Comment