Sikap Falih seoarang anak berusia delapan tahun begitu aneh beberapa minggu ini, tidak seperti hari-hari biasanya, dia lebih senang mengurung diri di dalam kamar, keceriaan seolah hilang dari dirinya. Sifat periang yang dimilikinya pun lenyap entah kemana.
Rizal ayahnya adalah seorang pegawai swasta yang mendapatkan promosi jabatan di luar daerah sedangkan Rheni ibunya , pegawai negeri sipil di sebuah instansi pemerintah di kotanya. Keduanya selalu disibukkan dengan rutinitas pekerjaannya masing-masing.
Pada awal kepindahannya Rizal setiap minggu masih menyempatkan diri untuk pulang ke kotanya, menemui Falih anak semata wayang dan Rheni istri tercintanya, tapi seiring dengan kesibukan pekerjaan, Rizal semakin jarang pulang, bahkan kadang sampai berbulan-bulan.
Begitupun dengan Rheni ibunya, walaupun dia tinggal bersama, jarang sekali ada waktu khusus untuk mengurus keperluan anaknya, segala urusan anak hampir semuanya sudah di serahkan kepada baby sitter yang sudah mereka anggap sebagai keluarga sendiri.
Berangkat subuh pulang tengah malam, itulah yang sering dilakukan oleh kedua orang tua Falih di tempatnya masing-masing. Bekerja keras mencari uang demi meraih mimpi dan harapan, begitulah kira-kira alasannya.
Sampai pada suatu hari libur, disaat keluarga kecil itu berkumpul, Falih menunjukkan kemurungannya, Rizal bertanya perihal keadaan anaknya kepada Rheni istrinya, namun hanya gelengan kepala yang dilihatnya.
Merasa ada sesuatu yang lain Rizal pun mencoba mengajak berbicara anaknya,
"Papa lihat sikap kamu akhir-akhir ini berubah?"
"Tidak ada yang berupah pa Falih merasa biasa saja"
"Lantas kenapa kamu mengurung diri terus dikamar?ada apakah gerangan nak?"
Falih hanya diam, masih cemberut. Lalu di keluarkanya sebuah buku dengan penuh coretan disana dan di berikannya kepada sang Papa.
Untuk papa,
Falih tau papa bekerja keras siang dan malam untuk mencukupi kebutuhan Falih, walaupun Falih tidak seberuntung anak-anak yang lain, yang bisa bertemu Papa-nya setiap hari, yang bisa bermain dan bercanda setiap saat.
Papa, Falih pun tau jika mama mengajarkan kasih sayang kepada Falih, Papa mengajarkan sikap tegar dan berani kepada Falih, karena menjadi anak laki-laki tidak boleh cengeng, tidak boleh lemah, anak laki-laki harus kuat harus tahan banting seperti papa ketika masih muda, tetapi papa, haruskah Falih merasakan apa yang pernah papa rasakan, apakah Falih harus berpura-pura tegar, padahal Falih butuh kasih sayang seperti yang tidak pernah papa dulu dapatkan.
Papa sadarkah, sepeda yang papa berikan tidak mungkin bisa Falih pakai kalau tidak ada yang bisa mengajarkan, bola kaki yang papa beli tidak menarik jika tidak ada teman yang memainkannya bersama Falih.
Falih kangen saat kita masih tinggal di kontrakan, saat papa pulang kerja falih bisa naik di motor, walau cuma untuk berputar-putar sebentar. Dan yang paling berkesan adalah jika di hari libur selalu ada waktu buat kita mandi bola.
Rizal pun hanya terdiam, terpana, terharu campur aduk dalam hatinya, ternyata selama ini Ia bekerja keras untuk mencukupi segala kebutuhan keluarga masih belum cukup, karena yang diharapkan oleh Falih adalah sedikit waktu luang untuk melewati masa-masa kanaknya.
******************************************************
keren sob artikelnya,,,,,,
ReplyDeletemampir sob di Panduan Blogspot
makasih, hehe.. sudah dari kemaren-kemaren dan sudah mempraktekan beberapa Tutorialnya.. :D
ReplyDeletetrimakasih