Setelah melihat sebuah acara reality show di televisi, perihal orang tua yang sudah renta dengan kondisi penglihatan yang sudah kabur, pergi meninggalkan rumah anaknya dan memilih tinggal di sebuah makam karena merasa "diusir" oleh menantu, saya jadi merenung, terlepas apakah acara tersebuat hanya sebuah rekayasa ataupun bukan, kondisi ini memang ada disekeliling kita, saya jadi membayangkan jika suatu saat kondisi serupa menimpa kepada diri saya sendiri, alangkah sedih dan mirisnya.
Wednesday, March 21, 2012
Bijaklah Menghadapi Orang Tua
Setelah melihat sebuah acara reality show di televisi, perihal orang tua yang sudah renta dengan kondisi penglihatan yang sudah kabur, pergi meninggalkan rumah anaknya dan memilih tinggal di sebuah makam karena merasa "diusir" oleh menantu, saya jadi merenung, terlepas apakah acara tersebuat hanya sebuah rekayasa ataupun bukan, kondisi ini memang ada disekeliling kita, saya jadi membayangkan jika suatu saat kondisi serupa menimpa kepada diri saya sendiri, alangkah sedih dan mirisnya.
Thursday, March 15, 2012
Membuat Menu Sederhana pada Blog
Untuk mempercantik tampilan blog dan mempermudah pengunjung berselancar, pemilik blog dapat membuat menu pada header blog yang dimilikinya. Semua tergantung kepada selera pemilik blog sendiri, karena tidak semua blogger menyukai tampilan menu, karena mungkin dianggap mengganggu. Namun pada umunya jika kita membuka sebuah website, maka kita akan menemukan deretan menu yang menggambarkan apa isi dari website tersebut.
Wednesday, March 7, 2012
Sebuah Asa dari Timnas Indonesia U-21
Ditengah kondisi sepak bola nasional yang memprihatinkan, timnas garuda muda Indonesia U-21 memberikan harapan bagi Indonesia dari dahaga gelar, walau hanya di level turnamen antar pemain-pemain muda usia 21 tahun di Asia Tenggara, prestasi mereka sungguh membanggakan.
Tuesday, February 28, 2012
Buy One Get One Entrance Free di Snow Bay
Pernahkah anda merasakan sensasi "dijatuhkan" atau “didorong” dari ketinggian lebih dari sepuluh meter? Tanpa menggunakan alat pengaman, tubuh meluncur, masuk kedalam lubang berbentuk tabung yang diameternya hanya cukup untuk satu orang, lalu berputar di sebuah mangkuk besar dan seperti dilemparkan ke dalam kolam air dengan kedalaman lebih dari tiga meter. Jika anda ingin mencoba adrenalin anda dengan merasakan sensasi wahana Flush Bowl tersebut, datanglah ke wahana air Snow Bay yang ada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur.
Thursday, February 23, 2012
Liburan Bersama Anak di Kampung? Kenapa Tidak?
Kurang lebih dua tahun yang lalu, karena ada pekerjaan dari kantor, istriku harus berangkat ke luar kota selama kurang lebih lima hari. Sedangkan aku harus pulang ke daerah di tempatku bekerja sekarang. Perasaan bingung dan cemas pun datang melanda, tidak mungkin anak ku Falih yang masih berusia 1,7 tahun ditinggal sendiri bersamababy sitter yang biasa mengasuhnya di Jakarta.
Tuesday, January 17, 2012
Kutemukan Jodohku di Dalam Busway
Jakarta, 17 Juni 2009
Rey menapaki tangga demi tangga menuju halte busway Buncit dengan tergesa-gesa, mendahului beberapa pelajar berseragam SMA dan para calon penumpang lain. Setelah membayar tiket di depan loket dan petugas penjaga memeriksa karcis, ia pun masuk ke dalam halte, menunggu bus yang akan mengantarkannya ketempat dia bekerja, di daerah Setiabudi.
Di dalam halte, sudah sesak dengan calon penumpang, beberapa orang terlihat asik mendengarkan musik dari headset yang terpasang di telinganya masing-masing, ada juga yang terlihat menahan kantuk, semua punya keinginan sama, segera mungkin sampai di tempat yang dituju.
Di dalam halte, sudah sesak dengan calon penumpang, beberapa orang terlihat asik mendengarkan musik dari headset yang terpasang di telinganya masing-masing, ada juga yang terlihat menahan kantuk, semua punya keinginan sama, segera mungkin sampai di tempat yang dituju.
Monday, January 9, 2012
Dukun Aborsi [FF]
“Kamu yakin mualmu itu cuma karena maag?,”
“Yakin ma, beberapa hari ini Maya tidak teratur makan."
“Kalau begitu mama temani kamu ke dokter,”
“Jangan ma, biar Maya pergi sendiri.”
“Yakin ma, beberapa hari ini Maya tidak teratur makan."
“Kalau begitu mama temani kamu ke dokter,”
“Jangan ma, biar Maya pergi sendiri.”
Thursday, January 5, 2012
Ngilu... [FF#100K]
Pukul 20.30
Jingga meringis kesakitan, mukanya merah padam menahan ngilu. Sesaat yang lalu dia masih terbaring lemah diatas seprei berwarna putih, masih terbius, mulutnya terbuka dan bibirnya terasa kelu.
Saat Mimpi itu Akan Datang
Rintik hujan menemani langkahku
Titik air berlomba jatuh dan luruh
Dibalik kaca jendela bus kota
Menambah dingin
Menambah sunyi
Menemani
Mereka yang sedang terlelap
Menikmati tidur panjang
Menuju akhir dari tujuan perjalanan
Tuesday, January 3, 2012
Resolusi Tahun Baru 2012
Tak terasa tahun sudah berganti, tahun 2011 sudah meninggalkan kita dan tahun 2012 sudah mulai ditapaki. Penting ataupun gak penting, gue harus mengingat-ingat momen pergantian tahun. Bukan apa-apa, karena di bulan Januari ada hal-hal yang harus gue kerjain.
Wednesday, December 21, 2011
Cucu untuk Ibu [FF#100K]
Emak merasa sedih. Bukan karena anaknya yang sudah tiga tahun tidak pulang. Tetapi tetangganya memang berisik, dia yang ingin cucu, kemaren, mereka yang menanyakan lagi.
Jangankan cucu, menantu pun ia belum bertemu. Yang ia tahu, anaknya kini bekerja di Jakarta, tinggal di komplek elit, ada mobil, dan istri yang cantik. Mereka terlalu sibuk, sehingga belum bisa pulang kampung.
Monday, December 19, 2011
Arwah Anisa [FF#100K]
Anisa masih saja duduk di teras rumah, padahal hari telah menjadi gelap. Lembayung senja telah berubah menjadi pekat.
Di depan pintu, seorang perempuan paruh baya hanya berdiri mematung, memandang hampa ke arah jalanan yang sepi, berharap seseorang akan datang kembali.
Di depan pintu, seorang perempuan paruh baya hanya berdiri mematung, memandang hampa ke arah jalanan yang sepi, berharap seseorang akan datang kembali.
Thursday, December 15, 2011
Rumah Hantu [FF#100K]
Malam sudah larut, purnama tertutup awan gelap. Lapar yang membuatku harus keluar rumah, di dapur, sebungkus mie pun tak kudapti.
Aku sedang beruntung,
Tuesday, December 6, 2011
Ayo Menulislah Kawan
Menulis sungguh mengasikan jika memang sedang ada mood yang baik. Ide di kepala sepertinya mengalir bagai air bah yang ditumpahkan dari langit, tangan dengan mudah menekan tuts huruf di keyboard, pena menari-nari dengan lincah di atas kertas. terasa mudah dan mengasikan. Saking asyiknya sampai tak terasa sudah berapa halaman yang ditulis.
Monday, November 28, 2011
Falih dan Cerita Mandi Bola
Sikap Falih seoarang anak berusia delapan tahun begitu aneh beberapa minggu ini, tidak seperti hari-hari biasanya, dia lebih senang mengurung diri di dalam kamar, keceriaan seolah hilang dari dirinya. Sifat periang yang dimilikinya pun lenyap entah kemana.
Rizal ayahnya adalah seorang pegawai swasta yang mendapatkan promosi jabatan di luar daerah sedangkan Rheni ibunya , pegawai negeri sipil di sebuah instansi pemerintah di kotanya. Keduanya selalu disibukkan dengan rutinitas pekerjaannya masing-masing.
Tuesday, November 22, 2011
Terbanglah Terus Timnas Garuda Indonesia
Kekalahan memang menyakitkan, apalagi itu terjadi di negeri sendiri, di hadapan ribuan pendukung setia Timnas Garuda Indonesia. Harapan dan asa itu terbang bebas setelah 120 menit yang membuat jantung berdegup kencang berlalu.Terbang oleh kata-kata menakutkan kalah dari keberuntungan sebuah adu pinalti. Dahaga gelar membuat semua komponen bangsa ini bersatu untuk membela dan mendukung Garuda Muda meraih mimpi itu.
Kerja keras telah di tunjukan oleh mereka, berjuang mati-matian, jatuh bangun dan tersungkur mencium tanah hanya untuk mempertahankan gawang dari kebobolan. Daya juang yang tinggi semangat pantang menyerah seperti simbol bahwa mereka adalah pemuda-pemuda yang ikut berjuang membela tanah air ini, bukan dengan mengangkat bambu runcing seperti pahlawan pendahulu mereka, melainkan melalui sepak bola.
Dan malang memang tak dapat ditolak untung pun belum dapat diraih, karena dewi fortuna telah memilih sang lawang untuk menjadi juara. Tapi ingatlah kawan bukankah kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda, kami percaya itu.
Sunday, November 20, 2011
Pigura Kenangan
“Aku ingin mengajakmu makan malam lagi Mel, seperti seminggu yang lalu. Di tempat biasa kita makan dulu.” Suara berat Jimmy di seberang telepon seperti meminta. Meli terdiam sesaat, mencoba berfikir sejenak untuk mencari alasan agar bisa menolak tawaran itu. Jika ajakan-ajakan sebelumnya dia tidak sanggup menolak, tapi tidak untuk malam ini.
“Mel, kamu masih mendengar suaraku kan?” suara Jimmy kembali terdengar dalam kesibukan Meli mencari-cari alasan penolakan.
“Iya Jim, terdengar sekali kok.” Sahut Meli cepat dengan nada yang dibuat riang. “Tapi maaf, dengan berat hati aku menolak. Aku harus menyelesaikan tugas kantor karena sudah dikejar deadline.” Ujar Meli bohong dan berusaha keras membuat aksen bicaranya menjadi meyakinkan.
“Baiklah kalau begitu Mel. Tetapi aku tetap berharap suatu saat kita bisa makan bersama lagi. Berdua.” Kali ini suara Jimmy terdengar kecewa mendengar kalimat penolakan dari Meli.
Meli menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya yang empuk setelah Jimmy menutup teleponnya tiba-tiba. Fikirannya melayang jauh, batin masih berkecamuk. Ada sesal, setelah dia menolak ajakan Jimmy. Semenjak pertemuannya dengan Jimmy suatu siang di sebuah mall, kini lelaki itu kembali mengusik hari-harinya setelah hampir sepuluh tahun mereka berpisah. Bayangan masa lalu yang sudah dikuburnya dalam-dalam, perlahan kembali terpampang jelas di pikirannya. Jimmy pernah mengisi hari-hari indah Meli. Empat tahun mereka berpacaran, bukanlah waktu yang sebentar karena banyak kenangan yang sudah mereka lalui bersama, sampai akhirnya mereka berpisah karena orangtua yang tidak pernah merestui hubungan mereka.
Meli masih terhanyut dalam kenangan masa lalu dan tidak menyadari Erwin masuk ke dalam kamar. Bahkan ketika Erwin meletakkan tas hitamnya di atas meja. Lalu ia membuka kemeja lengan panjang yang dipakainya dan memasukannya ke dalam keranjang cucian di balik pintu kamar.
“Mel, kamu masih mendengar suaraku kan?” suara Jimmy kembali terdengar dalam kesibukan Meli mencari-cari alasan penolakan.
“Iya Jim, terdengar sekali kok.” Sahut Meli cepat dengan nada yang dibuat riang. “Tapi maaf, dengan berat hati aku menolak. Aku harus menyelesaikan tugas kantor karena sudah dikejar deadline.” Ujar Meli bohong dan berusaha keras membuat aksen bicaranya menjadi meyakinkan.
“Baiklah kalau begitu Mel. Tetapi aku tetap berharap suatu saat kita bisa makan bersama lagi. Berdua.” Kali ini suara Jimmy terdengar kecewa mendengar kalimat penolakan dari Meli.
Meli menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya yang empuk setelah Jimmy menutup teleponnya tiba-tiba. Fikirannya melayang jauh, batin masih berkecamuk. Ada sesal, setelah dia menolak ajakan Jimmy. Semenjak pertemuannya dengan Jimmy suatu siang di sebuah mall, kini lelaki itu kembali mengusik hari-harinya setelah hampir sepuluh tahun mereka berpisah. Bayangan masa lalu yang sudah dikuburnya dalam-dalam, perlahan kembali terpampang jelas di pikirannya. Jimmy pernah mengisi hari-hari indah Meli. Empat tahun mereka berpacaran, bukanlah waktu yang sebentar karena banyak kenangan yang sudah mereka lalui bersama, sampai akhirnya mereka berpisah karena orangtua yang tidak pernah merestui hubungan mereka.
Meli masih terhanyut dalam kenangan masa lalu dan tidak menyadari Erwin masuk ke dalam kamar. Bahkan ketika Erwin meletakkan tas hitamnya di atas meja. Lalu ia membuka kemeja lengan panjang yang dipakainya dan memasukannya ke dalam keranjang cucian di balik pintu kamar.
Tuesday, November 15, 2011
Saya Suka Gaya Wim di Pinggir Lapangan
Mengecewakan, itulah kata-kata yang terucap oleh mungkin hampir seluruh pemirsa TV dan pecinta Timnas Garuda, setelah melihat hasil akhir pertandingan Indonesia vs Iran yang berkesudahan 1-4 buat tim tamu. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada punggawa-punggawa Timnas yang sudah berjuang mati-matian untuk setidak-tidaknya menuai hasil seri, harus diakui Timnas senior kita memang masih setingkat di bawah tim Iran.
Yang lebih mengecewakan lagi menurut saya adalah melihat sang pelatih, yang sepanjang pertandingan tidak tampak sekalipun berdiri di pinggir lapangan, memberian support, instruksi ataupun perintah yang bisa membangkitkan daya juang pemain-pemain yang sedang berada di tengah lapangan. Entahlah apakah instruksi ataupun support sang pelatih sudah habis-habisan di berikan di ruang ganti, atau memang para pemain dibiarkan saja menanggung beban mental ketika tengah di bombardir oleh pemain-pemain lawan.
Sunday, November 13, 2011
Halte dan Cerita Hujan
ilustrasi : https://pngtree.com/
Faishal memacu motornya kencang, karena langit sudah semakin gelap dan pekat, angin sudah mulai bertiup kencang, sepertinya hujan lebat akan turun di sore ini. Tak sanggup ia membayangkan jika dia sampai terjebak oleh hujan, kemacetan dimana-mana, belum genangan air yang sering membuat jalan yang dilaluinya pulang kerja menjadi lautan air.
Tapi untung tak dapat diraih malang tak dapat di tolak, hujan pun turun juga, dimulai dengan rintik-rintik, kemudian menjadi seperti air bah yang ditumpahkan dari langit. Angin kencang pun bertiup merobohkan pohon besar yang ada di pinggir jalan, dekat trotoar.
Mau tak mau Faishal pun akhirnya menepi, dengan tergopoh memarkirkan motornya, jaket hitam yang di kenakanya sudah basah terkena air hujan. Baru saja dia berteduh di sebuah halte bus di pinggir jalan, sebuah sedan silver melintas dan melaju dengan kencang, sehingga menimbulkan cipratan air yang mengenai sepatunya yang mengkilap.
"Sompret, sialan loe ya, udah tau ujan bawa mobil kayak setan, gak punya mata kali yah " Faishal menghardik dan mengumpat, tapi yang diumpat tetap berlalu dalam guyuran hujan yang semakin deras, sehingga umpatan Faishal itu tidak mungkin terdengar, bahkan mungkin umpatan itu hanya terdengar olehnya sendiri.
Tapi untung tak dapat diraih malang tak dapat di tolak, hujan pun turun juga, dimulai dengan rintik-rintik, kemudian menjadi seperti air bah yang ditumpahkan dari langit. Angin kencang pun bertiup merobohkan pohon besar yang ada di pinggir jalan, dekat trotoar.
Mau tak mau Faishal pun akhirnya menepi, dengan tergopoh memarkirkan motornya, jaket hitam yang di kenakanya sudah basah terkena air hujan. Baru saja dia berteduh di sebuah halte bus di pinggir jalan, sebuah sedan silver melintas dan melaju dengan kencang, sehingga menimbulkan cipratan air yang mengenai sepatunya yang mengkilap.
"Sompret, sialan loe ya, udah tau ujan bawa mobil kayak setan, gak punya mata kali yah " Faishal menghardik dan mengumpat, tapi yang diumpat tetap berlalu dalam guyuran hujan yang semakin deras, sehingga umpatan Faishal itu tidak mungkin terdengar, bahkan mungkin umpatan itu hanya terdengar olehnya sendiri.
Pengamen Malam
Di bus itu kau nyanyikan lagu
Lagu lama yang masih terdengar merdu
Walaupun kau nyanyikan dengan suara sumbangmu
Hanya demi uang receh yang sangat berarti bagimu
Tak perduli dengan para pendengarmu
Apakah suka,murka, atau tengah terluka
Tetap saja iringan gitar dan nyanyian keluar dari mulutmu
Sungguh kau nikmati semua itu
Hidup ini memang keras kawan
Tak ada sesuatu yang dapat kita gapai
Jika kita tidak mau mencoba meraihnya
Itu menurutmu kawan
Kau sandarkan hidupmu
Di jalanan dan kerasnya kehidupan
Tanpa mengenal takut dan pengecut
Karena kau sudah tahu resiko apa pun yang akan menghadang
Mungkin demi sesuap nasi,sebatang rokok, dan segelas kopi
Mungkin juga demi anak dan istrimu
Atau mungkin demi kesenangan hidupmu
Tapi itulah cara mu mengejar mimpi
Tak sedikit orang yang mencibirmu
Memandangmu dengan nanar dan sinis
Mengaanggap kau bodoh dan malas
Mengaanggapmu hanya pasrah kepada keadaan
Pengamen malam, aku menyebutmu
Menemani perjalananku di setiap malam akhir pekanku
Menghiburku dengan suara sumbangmu
Hanya demi receh yang kadang tidak aku perdulikan tapi berarti bagimu
Ah...Pengamen malam
Bukankah aku pernah menjadi sahabat dan bagian darimu...
*tulisan ngawur, menghilangkan jenuh menghadapi macetnya jalan di akhir pekan..
Lagu lama yang masih terdengar merdu
Walaupun kau nyanyikan dengan suara sumbangmu
Hanya demi uang receh yang sangat berarti bagimu
Tak perduli dengan para pendengarmu
Apakah suka,murka, atau tengah terluka
Tetap saja iringan gitar dan nyanyian keluar dari mulutmu
Sungguh kau nikmati semua itu
Hidup ini memang keras kawan
Tak ada sesuatu yang dapat kita gapai
Jika kita tidak mau mencoba meraihnya
Itu menurutmu kawan
Kau sandarkan hidupmu
Di jalanan dan kerasnya kehidupan
Tanpa mengenal takut dan pengecut
Karena kau sudah tahu resiko apa pun yang akan menghadang
Mungkin demi sesuap nasi,sebatang rokok, dan segelas kopi
Mungkin juga demi anak dan istrimu
Atau mungkin demi kesenangan hidupmu
Tapi itulah cara mu mengejar mimpi
Tak sedikit orang yang mencibirmu
Memandangmu dengan nanar dan sinis
Mengaanggap kau bodoh dan malas
Mengaanggapmu hanya pasrah kepada keadaan
Pengamen malam, aku menyebutmu
Menemani perjalananku di setiap malam akhir pekanku
Menghiburku dengan suara sumbangmu
Hanya demi receh yang kadang tidak aku perdulikan tapi berarti bagimu
Ah...Pengamen malam
Bukankah aku pernah menjadi sahabat dan bagian darimu...
*tulisan ngawur, menghilangkan jenuh menghadapi macetnya jalan di akhir pekan..
Subscribe to:
Posts (Atom)












